[Travel Story] Antwerp in 180 Minutes

Menerobos dinginnya kota Amsterdam, tertatih kaki menyusuri jalanan berbatu menuju stasiun kereta Amsterdam Centraal. Bermodalkan tiket kereta menuju Brugges via Antwerp, dimulailah perjalanan mengelilingi sebagian kecil benua Eropa ini. Musti pandai-pandai ya kalau traveling di Eropa naik kereta api. Ndak ada pengumumannya, yg ada kita musti mawas merhatiin live board information. Atau tanya aja ama petugas keretanya, gak perlu sambil nyanyi “kereta tiba pukul berapa?”.

Pandangan terpaku keluar jendela, gini to rasanya naik kereta di negara orang. Nyaman banget, biarpun agak mahal. Continue reading

[Travel Story] Amsterdam Beriman Extended

Dutch cookies, Pistachio, dan Champagne Macaroons berhasil dibawa pulang dari Westerpark Sunday Market. Cemilan manis, udara dingin, dan gigi berlubang itu ibarat Inul dan Bang Rhoma, kalo disatuin goyang bareng gak cocok tapi enak.

Macaroons

Senyampang mengamati berbagai tempat yg sudah ditandai di peta, ternyata faktor umur berpengaruh juga ya ama gaya jalan. Kalau dulu musti bisa ngunjungin semua tempat, berasa rugi banget kalo gak. Eh sekarang kok lebih menikmati atmosfer kota, kehidupan penduduk disitu, lebih santai jalannya. Beneran ya, ini faktor dingin bikin laper cepet dateng. Baru juga mengudap 3 biji Macaroons, perut udah kelaparan aja.  Continue reading

[Travel Story] Amsterdam Beriman Part 1

Berjuang dengan suhu 6°C dan jetlag yg melanda, pelan namun pasti mulai melangkah keluar dari Amsterdam Centraal. Sesuai dengan pesanan tempat menginap selama di Amsterdam, rute menuju ke Shelter City  yg lokasinya di sekitaran Niuewmarkt bisa dicapai dengan menaiki tram atau subway, kalaupun mau jalan kaki sebenernya jaraknya deket banget.

Lokasi penginapan ini pas ditengah-tengah distrik lampu bohlam remang-remang merah. Demi menjaga tingkat keimanan ditengah serbuan godaan mbak-mbak berpakaian kurang dibalik pintu kaca, maka penginapan syariah inilah yg sekiranya cocok untuk membentengi diri agar tidak terlalu jauh terbawa ke lembah nista. No drugs, no alcohol, and no sex at the hostel … Tapi kalo pacar aja bisa lima langkah, masa nista kalah jauhnya. Continue reading

[Travel Story] Destination Europe

14 jam dan 24 derajat Celcius lebih rendah kemudian, roda-roda pesawat KLM menggilas landasan pacu bandara Schipol Amsterdam. Jelang tengah hari kala kaki perlahan menginjak hamparan lantai dingin salah satu bandara tersibuk di dunia ini. Tubuh yg terbiasa terpapar cuaca tropis, otomatis menggigil disambut udara musim dingin di Belanda ini. Dengan kondisi kurang tidur dan badan yg masih syok karena perbedaan suhu dan waktu ini, dimulailah petualangan bersendirian di benua biru. Eropa … brace yourself …

Tapi belum resmi masuk Amsterdam kalo belum lolos dari imigrasi, dengan tegar dan penuh percaya diri serta muka bengep dihadapilah mbak penjaga counter. Bermodal bahasa Inggris yg hanya cukup buat beli permen di Sevel ini, lolos juga dr pertanyaan si mbak. Sebenernya pengen nembakin confetti begitu melintas konter imigrasi ini, tapi drpd dideportasi ke Timbuktu, dipendem dululah ya histerianya. Continue reading

[Travel Story] Surat Ijin Melintas Benua Biru

“Udah booking aja, mumpung lagi promo, itu murah banget”

Berawal dari bujuk rayu seorang teman, akhirnya dengan mantap menekan tombol Pay dilayar monitor. Tanpa ada niat dan persiapan yg cukup, mimpi untuk menginjakkan kaki ke benua biru akhirnya satu langkah makin dekat terlaksana. Mulai bingung nyusun rencana perjalanan, pesan penginapan dan alat transport lintas negara serta riset mengenai tempat wisatanya. Tapi yg paling penting adalah surat ijin melintas atau visa. Continue reading