[Travel Story] Pagang Painan Journey (1)


Pagang Island

Liburan pertama di tahun 2012 ini terjadi pas libur panjang di bulan Januari lalu *21-23 Januari 2012 tepatnya*. Tujuan kali ini gak jauh-jauh kok, cukup ke propinsi sebelah aja, ke West Sumatra tepatnya. Bukan … bukan Bukittinggi, atau Payakumbuh, tapi ke salah satu pulau yg ada di dekat Padang. Bukan pulau Sikuai ya …. tapi tetangga halaman belakangnya, yakni Pulau Pagang. Pulau Pagang terletak sekitar 1 jam perjalanan menggunakan boat dari pelabuhan Bungus, Padang. Meskipun terletak tepat dibelakang pulau Sikuai, tapi pulau Pagang ini masih lebih “konvensional” dibanding tetangganya yg sudah terkena efek komersalisasi. Dan bisa jadi penyebabnya karena masih merupakan pulau milik pribadi.

Gw berangkat dari Pekanbaru ke Padang seperti biasa naek travel Dipo (0761-862243) bersama rombongan, ada  Andien, Okta, Lita, sama Sakti *kami genk Arisan 2*, sementara Mei Mei berangkat dari Rengat. Meeting point kita Padang, rumah salah satu genk Arisan 2. Berangkat dari Pekanbaru sekitar jam 8 malam dengan ongkos IDR 90K, dan sampai di Padang kurang lebih jam 4 pagi, sementara Mei Mei sampai tak lama kemudian. Setelah tancap sana sini, dan sarapan masakan rumahan yg super lezat, kami dijemput oleh kawan yg asli Padang, lalu diangkutlah kami sama mobilnya si kawan buat dianter ke pelabuhan Bungus.

Pantai Bungus

Pelabuhan Bungus sendiri terletak sekitar 30 menit dari Kemchic pusat kota Padang, dekat dengan Pelabuhan Teluk Bayur. Kalau naik kendaraan umum, coba cari travel atau bus yg menuju ke Painan (Pasisir Selatan). Setelah mampir beli bekal makan siang, kami pun menuju ke Losmen Carlos yg mana sebagai departure area buat ke pulau Pagang, sekaligus lokasi dari pengelola pulau tersebut. Kalau mau berkunjung ke Pagang, bisa reservasi dulu via telepon biar sekalian di-arrange mengenai pembayaran, transport, penginapan selama disana, dll. Kami berencana bermalam di pulau, rencana awal pengen nyewa tenda aja, tapi jadi ngambil kamar juga demi alasan keamanan. Kemaren kita bayar admission fee IDR 1.500K buat 7 orang, include peralatan snorkling for free, transport fee VV, dan segalon air minum. Sedangkan sewa tenda IDR 25K/malam dan sewa cottage IDR250K/malam.

Sekitar pukul 11 siang, boat kami pun melaju membelah lautan menuju ke pulau Pagang. Sepanjang perjalanan tak henti terkagum dengan pemandangan yg tersaji, serta sedikit deg deg pyur pas lihat perubahan warna laut yg semakin gelap pertanda laut makin dalam. Seru sik sepanjang perjalanan terkena tempias air laut *langsung jd ikan asin dah*.  Singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta sampailah kita dengan selamat di pulau Pagang.

The view

Dan seketika tanpa sadar mulut ini nganga dengan seksama, melihat gradasi warna laut yg uh-mazing dan kontras dengan putihnya pasir pulau Pagang. Tak sabar pengen segera merasakan halusnya pasir pulau Pagang serta segarnya air laut, kami pun berlompatan turun tak karuan dari boat. Belum juga naruh barang di loker kamar, langsung potret sana sini. Sementara tenda dan tempat api unggun disiapkan sama kakak pembina *lo kate camping gudep 008*, kita langsung gelar tiker buat makan siang, lunch in paradise aja donk temanya.

Luncheon in para…para….paradise

Lepas naroh barang dan istirahat bentar di kamar, kami pun segera mengeksplore pulau seluas 32 Ha tersebut. Hanya sempat mengeksplore bagian pulau yg menghadap daratan Sumatera saja, sedangkan yg menghadap Samudera Hindia agak sulit karena masih sangat natural, sehingga kami belum berani untuk menghadapi apa yg tersaji dibalik pulau, selain itu karena kondisi badan agak capek juga punya andil. Pasir putih dan sehalus pantat bedak bayi pun jadi jamahan kami sepanjang sore itu, disamping sekedar snorkling dan pastinya poto-narsis-gak-penting donk ya.  Kalau capek, bisa sekedar rebahan di tikar yg udah disiapkan, ato berteduh di kamar monggo kerso juga. Tak terasa hari pun beranjak petang tanpa sempat memberi berita.

Our playground

Untuk urusan makan, sebenarnya di pulau Pagang ini menyediakan chef, walapun penampilannya tak semenantang Farah Quinn ataupun se-advance Jamie Oliver, tapi terbukti banyak wisatawan asing yg hlab hleb aja tuh makan masakannya. Dan kami sebagai wisatawan lokal kere, bawa bekal aja donk buat dimasak di dapur umum pulau Pagang. Niat loh bawa nugget, kentang goreng, minyak goreng, mie instant, dan gongnya bawa wajan sendiri *pelancong medhit*. Maka menu makan yg sederhana tersebut jadi terasa mewah dengan hiasan chandellier berupa gugusan bintang di angkasa yg bersinar sangat terang, just breathtaking …

Selesai makan makan, waktunya buat bercengkrama bersama rombongan dengan ditemani oleh temaram sinar dari api unggun. Entah kenapa malam itu genset tiba-tiba genset tak bersahabat. Ya sudah, sinar rembulan dan cahaya api unggun cukup membuat cerah malam di pulau Pagang disela canda gurau dan gelak tawa sahabat. Puas bercengkerama, kami pun mati gaya dan hanya bisa rebahan tak berdaya di tikar yg alhamdulillahnya muat buat kita bertujuh. Akhirnya menjelang tengah malam kami pun memasuki kamar dan tenda lalu memejamkan mata menunggu hari berganti.

Numpang nampang

Keesokan paginya, sembari susul menyusul dengan terbitnya matahari, kami sekali lagi menyusuri pantai dari ujung ke ujung. Hari sebelumnya kami sudah mengincar pulau diseberang yg nampaknya menjanjikan buat dijamah. Jadi sebelum dijemput untuk kembali ke daratan, disempatkanlah mampir ke pulau yg entah apa namanya itu. Cukup bermodalkan IDR 50K, kami menyewa salah satu perahu yg ada di pulau Pagang buat mengantar kami ke seberang. Dengan posisi duduk yg lebih mirip yoga, kami bertujuh pun diangkut dengan perahu kecil tersebut.

Tak sia-sia rupanya berdesakan di perahu tadi, pulaunya ajib bener. Jadi ya kalo kita berdiri di salah satu karang, kita daper double beach view aja gitu. Superb …

Pulau bapak akooh

Tak perlu berlama-lama di pulau seberang tersebut, selain waktu makin siang dan jemputan sudah menunggu, juga karena ombaknya makin “seru”. Dan tepat jam 12 siang, kami dijemput untu kembali ke Losmen Carlos untuk melanjutkan perjalanan ke Painan, sementara 2 orang teman tadi kembali ke kediamannya masing-masing.

(bersambung …)

Private beach *like a boss*

Para … para …. paradise

Amukan Nyi Blorong

Genk Arisan 2

Action

Accommodation

Open flame

Boat

Around the beach

Morning thought

Sunshine glory

Advertisements

25 thoughts on “[Travel Story] Pagang Painan Journey (1)

  1. Wow.. Seru Om. Pengen deh kayak gini tapi di Pulo Aceh.. Tapi sayang gak byk yg suka traveling di sini. Udah pernah mau brgkt nyari bbrp orang aja susah. Kalo mau sendirian, mahal deh sewa2 perahunya.

  2. duh, gue nyesel gak jadi ikutan itu trip. hiks..tapi ya gimana, tripnya pas Imlek aja dolo. batal seketika.

    Owl-some banget pulaunya…tapi itu yah toilet bikin drop

  3. Om, itu harga cottage 250rb/malam bisa buat berapa manusia?
    pernah baca di detik katanya sewa perahu ke pulau pagang 1jt PP, koq kalian bisa dapet harga 50rb sih… bagi tips nawarnya dunx 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s