[Travel Story] Kenyang di Penang


Bukit Bendera a.k.a Penang Hill

Setelah istirahat secukupnya di Hutton Lodge, dan sarapan mengenyangkan dengan setangkup roti bakar dan printilannya serta banana cake yg lumayan menggoyang lidah, maka sesuai kesepakatan sebelumnya, kunjungan kerja pertama hari itu dimulai di Bukit Bendera a.k.a Penang Hills.

Kelar menyusuri Hutton Lane, sampe di perempatan Chowrasta, kita jalan kaki ke ara KOMTAR *yg semula gw kira singkatan dari Komidi Putar*. Semacam bangunan tertinggi di pulau Penang ini yg berisi bangunan perkantoran gitu deh.

Di bawahnya ada semacam terminal bus *kayak Blok M gitulah* sebagai tempat bermula dan berakhirnya bus segala jurusan di Penang ini. Berhubung sebagai pendatang pemula di Penang, gw ama buzzerbeez dituntun oleh dedengkot Penang *kokohrocha* ke tempat pembelian tiket. Gak mau repot binti ribet, kita beli tiket terusan Rapid Penang Passport seharga MYR 30 yg bisa dipake unlimited sampe 7 hari ke depan.

Dari terminal Komtar kami menaiki bus nomor 204 (Jetty-Penang Hill), perjalanan menempuh masa lebih dari 1 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Komtar dan Penang Hills.

Funicular

Funicular a.k.a kereta doyong

Penang Hill ato Bukit Bendera ini terkenal dengan funicular ato kereta doyong *menurut ngana, dikata waru* yg jalannya miring naek ke atas bukit. Tiketnya seharga MYR 30 buat WNA, tapi buat WNM (Warga Negara Malaysia) cukup MYR 8 ajuah *jauh beud yak selisihnya*.

Kereta yg dipake masih baru, menggantikan kereta terdahulu yg sepertinya diabadikan disalah satu sisi rel. Perjalanan ke puncak bukit lumayan mulus, tanpa suatu kendala apapun. Cuman kalo mau head to head ama yg di Victoria Peak HK, gw msh lbh milih yg Victoria Peak.

Signage *abaikan penampakan diatas*

Dan apa yg ada di puncak Bukit Bendera ??? gak banyak tempat yg bisa didatengi. Selain ada cafe, Owl Museum, dan pertunjukan ular gitu deh *asli itu kobranya segedhe python*, mungkin sebenarnya ada banyak tempat wisata, cuman keknya kurang hype sik ya tempatnya. Secara barengan ama hari libur lokal kali ya, jadinya penuh ama darmawisata anak-anak sekolah yg menggerumuni Bukit Bendera.

Saking bingungnya mo ngapain disana kami cuman sekedar jalan-jalan, nyobain teropong, lalu mampir ke Owl Museum. Jadi Owl Museum itu semacam galeri untuk mempertujukkan segala rupa bentuk burung hantu. Gw kira kalo ada burung hantu benerannya, ini ternyata semacam showcase untuk pernak-pernik yg menyerupai bentuk owl itu sendiri. Ada jam dinding, lukisan, patung dari bulu, patung kaca, patung keramik, dsb. Ada juga info mengenai owl itu sendiri, dari mana asalnya, kebiasaannya apa, dsb. Lumayan jg menghabiskan waktu disana, cukup merogoh ongkos sebesar MYR 10 aja *padahal mo numpang ngadem lebih tepatnya*, itupun udah dapet gantungan buat HP berbentuk macan *ya owl lah*. Lepas masa dari museum, lanjutlah kami ke dek di bawahnya yg berisi orang jualan souvenir khas Penang. Gak ada minat buat beli printilan disitu, cuman mo numpang duduk sembari menyesap sedikit minuman lokal, which is ABC *Ais Batu Campur*. Rempong dah namanya …

White Owl @ Owl Museum

Puas menyesap ABC yg tadinya kita kira es sirup *penampakannya macam es campur itu*, perjalanan dilanjutkan ke Kek Lok Si Temple *ayo pemirsa, ikuti perjalanan saya, nenteng Hermes*. Kuil yg terletak hanya sepicing mata dari Bukit Bendera ini menggabungkan arsitektur campuran, Chinesse, Burmesse, dan Thainesse. Selain itu view yg ditawarkan pun tak kalah uh-mazing dibanding view dr Bukit berbunga Bendera. Ramai para pesembahyang yg akan melakukan ibadah di kuil ini menambah daya tarik tersendiri, apalagi pas sebelum masuk ke lokasi temple ini, kita sudah disambut oleh kethek ogleng para penjual souvenir yg bikin jalan masuk sumpek plus sesek. Sedikit bisa bernapas lega pas nyampe di kolam yg penuh dengan entah penyu atao kura-kura ya. Lumayan bisa ngaso bentar sebelum lanjut menanjak ke main temple-nya. Kalo mau nengok patung Dewi Kwan Im berukuran jumbo, bisa langsung aja make jasa porter incline lift, semacam funicular cuman bentuknya mirip kotak lift. Seru bener dibanding betis gempor yak, apalagi cuman MYR 2 buat sekali jalan.

Kek Lok Si Temple

Setelah mengetes batas kemampuan fisik dengan mendaki bukit-bukit tadi *yaelah tes fisik apaan, mendakinya make kereta gitu* saatnya kita menuju ke arah dataran rendah. Next destination bundaran Ha I Straits Quay. Dari halte bis Pasar Air Itam *halte terdekat dr Kek Lok Si* naek bus Rapid Penang 201/203 tujuan Komtar, ganti bus 103 lalu turun di didepan Tesco Tanjung Pinang, dari situ tinggal jalan dikit aja kebelakang Tesco tadi. Tujuannya sik cuman mo makan Subway Sandwich …. *ngok banged kan*.

Straits Quay Entrance

Straits Quay ini daerah pemukiman elit baru di bibir Selat Malaka, rumah-rumah mewah dengan arsitektur Melayu fushion, apartment, dan pusat perbelanjaan yg lumayan chic tersedia disini, oh ya tak ketinggalan marina dengan yatch yg tertambat rapi pun hadir melengkapi 7 zona istimewa ini *bukan begitu mbak Feny*. Berbekal rasa lapar yg memuncak dari perjalanan sebelumnya, maka membabi butalah kami di Subway Sandwich *gw sih tepatnya*, dan dilanjut ronde kedua di Secret Recipe. Yah berhubung gerimis juga sik sebernernya, sekalian berteduh, tak ada salahnya sesuap dua piring cake hinggap ke pencernaan kan. Gerimis menghilang, pelangi pun mengundang ….

Pas mau balik lewat atrium utamanya, sempet ter-amazed-amazed ama rombongan ncik puan paruh baya yg lagi bergoyang macam poco(ng)-poco(ng) dengan lagu Pumped Up Kicks. Pengen gabung sebenernya ama flashmob angkatan tua ini, tapi takut dirajam karena goyangnya terlalu erotis.

Pasembur

Searah perjalanan pulang, kita sempetin mampir ke daerah Gurney. Rencananya mo numpang nampang di bioskop Gurney Plaza, tapi dibatalin karena takut kemaleman *apa kata tetangga ntar, anak gadis kok tengah malem udah pulang*. Ya weis, melipir aja ke warung disebelah buat makan *lagi*.

Namanya Gurney Drive Hawker Center, semacam perserikatan pedagang makanan digerobak dorong yg ditempatkan disatu tempat oleh Pemda setempat. Segala rupa macam makanan ada. Dilihat dari tingkat kemacetan yg ditimbulkan ama ini komplek warung, sepertinya menjanjikan buat wisata gastronomi. Arena makanan dibagi menjadi 2 bagian, yakni Halal dan non Halal yg dipisahkan oleh semacam garis imajiner. Tapi yg bagian halal cuman menempati sekitar 25% dari total keseluruhan luas arena permainan judi makan ini. Pasembur, Satay, Nasi Kandar, Char Kwe Tiau, dan Cucur adalah sample dr makanan di area halal, yg di non halal lebih banyak pilihannya, dan enak-enak rasanya *eh*.

Berhubung bisanya makan yg halal, ya weis pilihan jatuh ke Pasembur yg dengan harga (lumayan) murah mendapatkan porsi sampe begah. Sembari makan, dihibur ama tukang pasembur yg mainin pisau antara mo motong jari sendiri ama makanan beda tipis *Limbad musti berguru tuh*. Well, perjalanan hari itupun berakhir dengan perut senang, hati kenyang, dan uang saku yg berkurang. Saatnya balik ke Hutton Lodge buat perjalanan berikut, tetap ikuti saya ya pemirsa …

etc …

Funicular Ticket

Touristas

View from top

Pervert touristOwl Clock

The infamous ABC *Ais Batu Campur*

Comrades

Wishing ribbon tree

Can you spot the pig …

Wishing RIbbon

Kwan Im gian statue

View From Kek Lok Si temple

Owl-some Mercandise

Double Rainbow @ Marina

1,2,3 … jump *epic fail*

Flashmob squad

Gurney Drive Street Hawker

OMG …. did i just eat that ??

See more here

Advertisements

3 thoughts on “[Travel Story] Kenyang di Penang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s