[Travel Story] Memoir of Mak Itam


NOTE:
Per 8 Juni 2014, kereta api dari Stasiun Sawahlunto tidak melayani perjalanan sampai waktu yg belum ditentukan. Perjalanan ini dilakukan pada akhir 2013.

Sebagai salah satu moda transportasi yg bisa ngangkut penumpang dalam jumlah massive, kereta api menjadi pionirnya. Sejak jaman penjajahan Belanda dulu, kereta api sudah jadi sarana tranportasi barang maupun orang yg sangat diandalkan. Bahkan sampai sekarang jalur kereta peninggalan kolonial Belanda masih tersebar di beberapa pulau di Indonesia. Salah satunya di Sumatera Barat.

Kota Sawahlunto sebagai kota tambang batubara di era kolonial Belanda, turut merasakan bagaimana kereta api ini dipakai selabai sarana pengangkutan hasil tambang dari lokasi menuju ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang sana. Selain itu untuk keperluan pertambangan, jalur kereta ini juga dipakai sebagai sarana transportasi menuju ke Padang dan Padang Panjang.

Ditemani gerimis yg kadang mengecup manja lapisan kulit, kami melangkahkan kaki keluar dari Hotel Parai City Garden. Kecipak suara genangan air yg terpijak mengantarkan kami menuju pelataran stasiun yg lengang. Petugasnya pun belum nampak batang hidungnya.

Sawah Lunto Train Station and Museum

Suasana mistis meketika menyergap pandangan, tatkala mata ini memandang sekeliling kota Sawahlunto yg terbalut kabut. Dingin, misterius …

Barisan bukit yg memagari kota ini seakan turut menyimpan segenggam misteri yg meminta untuk disibak para pendatang. Jilatan manja kabut pagi di punggung bukit menawarkan pesona pegunungan Eropa yg agung. Pantas saja penduduk kota memilih bergelung dirumah mencari kehangatan dibanding berkegiatan diluar.

Misty mountain …

Hanya bangku kayu sederhana yg menyambut kami pagi itu. Sembari meresapi nuansa pagi yg menelusup sampai kebalik baju tebal kami, terbayang seperti apa ramainya stasiun ini pada masanya.

Tak lama kami bercengkrama tanpa mana, sayup terdengan derap langkap diselingi percakapan mendekati arah stasiun. Raungan deru motor sayup terdengar semakin kencang mengantarkan para penumpang yg dipenuhi rasa penasaran mencoba menaiki kereta apidari stasiun pagi ini. Hhhmm … ternyata bukan kami saja yg tergelitik sensasi yg ditawarkan.

Passengers

Riuh gelak tawa serta bertukar sapa menghangatkan pagi di stasiun. Ibu muda serta anaknya terlihat sumringah, keluarga kecil berpayung pelangi diseberang jalan tak lepa senyum tersungging di wajah mereka. Hanya dengan menaiki kereta api pun sudah jadi sebuah kebahagiaan bagi mereka. Sederhana sarat makna …

Pekikan panjang mengalihkan pandang penuh penantian kami, sekarang semua mata tertuju kearah datangnya si pemilik suara tadi. Sorot benderang lampu kereta di kejauhan menambah gelegak rasa yg membuncah di dada. Senyum kami bertambah lebar.

Cart wheel

Memang bukan si hitam manis yg sering kita dengar jika bercerita soal kereta, kali ini si merah berpadu biru menjemput tamu. Berbeda namun sama rasa yg ditawarkan. Menggandeng si kuning dipunggungnya, siap menyambut tamu menuju ke tempat tujuan. Rintik hujan menjadi deras sembari meniup nostalgia berkereta masa silam.

Binar penuh suka terpancar dari sorot mata penumpang kereta ketika kaki menjejak lantai stasiun Sawahlunto. Perjalanan dari Singkarak rupanya telah memberikan suguhan yg memanjakan mata dan seluruh panca indra. Akhirnya tiba juga giliran kami merasakan perjalanan yg pada masanya penuh dengan cerita kelam sepanjang jalur kereta ini.

Galauers

Perlahan roda kereta bergerak menggilas batang baja yg menyangganya. Perlahan juga seuntai senyum tersungging dibibir kami. Sembari menatap bulir hujan yg menempel di jendela kereta, khayal kami pun melayang liar. Dingin angin menelusup disebalik lapis pakaian kami yg menambah nuansa nostalgia perjalanan dengan kereta. Larik demi larik pemandangan diluar jendela berubah seiring menjauhnya kereta Mak Itam dari kota Sawahlunto. Deret bangunan tempat tinggal berganti dengan hijaunya sawah dan mistisnya kabut yg memeluk anggun perbukitan, seketika sekeliling kami pun gelap. Rupanya jalur kereta ini melewati sebuah terowongan yg lumayan panjang. Belum juga pupil menyesuiakan jumlah cahaya yg masuk, tiba-tiba saja mata tercilap-cilap dengan intesitas cahaya yg mendadak muncul seiring gerbong kereta yg keluar dari mulut terowongan.

The view

Rupanya ini pemandangan yg bikin kolonial Belanda dulu membuat jalur Sawahlunto-Padang Panjang. Decak kagum memenuhi rongga didada tatkala menyaksikan pemandangan yg disuguhkan dari balik kaca jendela yg basah oleh rintik hujan ini. Danau Singkarak perlahan menghampiri tepi jendela, dianungi kabut putih membuat danau yg tenang ini seakan tiada tepi. Magis dan penuh misteri.

Lake Singkarak in the mist

Muara Kalaban, Solok, Singkarak, dan Batu Tabal menjadi tempat kereta sejenak singgah, penumpang pun silih berganti naik dan turun dari gerbong tiga rangkai ini. Binar serupa tampak diwajah penumpang baru ini. Bahagia itu ternyata sederhana.

The stations

Dua jam telah tertempuhi dari stasiun Sawah Lunto hingga tujuan akhir stasiun Batu Tabal. Sejenak memang, namun kenangannya bakal lama tersimpan dirongga memori. Perlahan jejak kami semakin berat menjauh dari sosok Mak Itam yg menawarkan nukilan surga yg berkelebat di depan mata. Sebuah kehormatan dapat menyusuri jalur kereta yg penuh sejarah ini.

Salam

Old town station

One way ticket

Passenger from Singkarak

Through the channel

The train

Under rainbow umberella ella ella …

Along the way

Mountain back

Golden green

Waiting

Curve

Peek a boo

Silver lake

Hae hello

Long way home

More Picts, click on the photo

Advertisements

10 thoughts on “[Travel Story] Memoir of Mak Itam

  1. Per 8 Juni 2014, kereta api dari Stasiun Sawahlunto tidak melayani perjalanan sampai waktu yg belum ditentukan. <- Serius ini Om? Alhamdulillah deh kami udah pernah naik kereta ini.

    Btw, postingan ini gak dibajak orang kan Om? Gaya ceritanya gak Ombolot banget soalnya. Mendayu2 gimana gituuu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s