[Travel Story] Museum Goedang Ransoem Sawahlunto


Dapur merupakan jantung kehidupan dari sebuah rumah, bahkan bukan hampir dari seluruh kegiatan kita tujuannya untuk mengepulkan dapur dan menikmati hasil olahan didalamnya. Baik dalam skala kecil sampai yg berskala besar, termasuk di era kolonial Belanda. Pada masa pertambangan batubara di Sawahlunto, dapur umum ini yg memasok konsumsi tak hanya bagi meneer-meneer dan pekerja tambang saja, namun juga bagi masyarakat Sawahlunto yg berada di sekitar daerah tambang itu.

Wlcome to Museum Goedang Ransoem

Itulah yg sepintas tertangkap dari video yg diputar sesaat sebelum kami memulai penjelajahan Museum Goedang Ransoem *baca : Gudang Ransum* ini. Terletak di pojokan Kampung Jawa, Sawahlunto, museum ini menawarkan informasi yg sangat menarik terkait dengan kegiatan pertambangan batubara pada masanya.

Main kitchen and the boiler

Komplek dapur yg terdiri dari beberapa bangunan ini masih sangat terawat. Bangunan kokoh khas jaman dulu masih berdiri dengan gagahnya.

Steamer

Didalam bangunan utama, kita bisa melihat berbagai jenis peralatan memasak ukuran besar yg dipergunakan untuk memasak kebutuhan pangan pekerja tambang dan warga Sawahlunto. Kuali berukuran besar untuk  memasak air, menanak nasi, serta memasak sayur masih tersimpan dalam kondisi yg bagus. Terlihat juga seragam juru masak dan contoh masakan yg disajikan bagi pekerja tambang.

Meals

Ternyata teknologi memasak pada jaman itu udah lumayan keren. Mereka memasak memanfaatkan uap panas yg dihasilkan oleh 2 tungku dibagian belakang dapur utama, kemudian disalurkan melalui pipa-pipa bawah tanah yg diatur dengan kompresor. Cool …

Compressor

Selain peralatan memasak, didalam museum tadi juga diperlihatkan berbagai poto kota Sawahlunto pada masa itu. Peralatan pertambangan tradisional juga bisa ditemui disana.

Imersed

Tungku utama yg berperan menyuplai uap panas berada dibagian belakang dapur utama. Dengan menara tinggi menjulang, tungku batubara ini berukuran tidak  kalah besarnya. Seukuran rumah bersubsidilah kurang lebih. Sementara tungku cadangan ada 1 buah. Tangki yg dipergunakan juga terlihat masih terawat.

Boiler

Selain bangunan dapur utama dan tungku pemanas tadi, dalam komplek ini terdapat area untuk menyimpan sayur, bahan masakan kering, daging, dan pabrik es. Menurut pemandunya, pabrik es ini merupakan yg kedua tertua yg dibangun di Sumatera *CMIIW*.

Storage

Dengan harga tiket sebesar IDR 4K kita sudah dapat pengetahuan yg luar biasa. Bisa dibilang, Museum Gudang Ransum ini adalah museum yg dikelola oleh Pemda yg paling bagus. Thumbs up lah buat Pemda Sawahlunto ini.

Affordable

Jadi jangan sungkan maen ke museum, karena pengalaman yg didapat sungguh tak ternilai harganya. See you there …

Signage

Arch

Utensils

Chinaware

Minning tools

White Blue Red

More pictures, click on the photo

Advertisements

6 thoughts on “[Travel Story] Museum Goedang Ransoem Sawahlunto

  1. Aih, review kayak gini bikin kangen banget balik ke Sawahlunto. Gw trakhir kesini pas peresmian kota Sawahlunto jadi Kota Museum, abis itu gak pernah balik lagi. Pemdanya sering juga berkunjung n bikin penelitian di kantor gw, berarti kan mereka beneran concern ya sama programnya, ga cuma bikin doang tapi masih mikirin gimana ngembanginnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s