[Travel Story] Amsterdam Beriman Part 1


Berjuang dengan suhu 6°C dan jetlag yg melanda, pelan namun pasti mulai melangkah keluar dari Amsterdam Centraal. Sesuai dengan pesanan tempat menginap selama di Amsterdam, rute menuju ke Shelter City  yg lokasinya di sekitaran Niuewmarkt bisa dicapai dengan menaiki tram atau subway, kalaupun mau jalan kaki sebenernya jaraknya deket banget.

Lokasi penginapan ini pas ditengah-tengah distrik lampu bohlam remang-remang merah. Demi menjaga tingkat keimanan ditengah serbuan godaan mbak-mbak berpakaian kurang dibalik pintu kaca, maka penginapan syariah inilah yg sekiranya cocok untuk membentengi diri agar tidak terlalu jauh terbawa ke lembah nista. No drugs, no alcohol, and no sex at the hostel … Tapi kalo pacar aja bisa lima langkah, masa nista kalah jauhnya.

Lonceng gereja sudah terdengar menelusup celah jendela, pertanda untuk mengenal kota Amsterdam sembari beradaptasi dengan suhu yg lumayan nusuk di balik winter coat ini.

Provided by Ulmon apps

Tujuan awal adalah mencari lokasi tulisan I Amsterdam berada. Berhubung sudah menandai tourist spot di aplikasi smartphone, maka sekalian jalan ke tempat-tempat yg lainnya. Jalan-jalan nyasar aja tema travelling kali ini, tergantung kemana angin berhembus dan kaki melangkah, serta tawaran dari om-om senang *eh gak gitu juga kali*.

Lokasi hostel yg tepat dijantung red light district, mau tak mau, sadar tak sadar pasti terperangah dengan pemandangan yg tersaji didepan mata. Seharusnya jalannya agak dicepetin biar badan anget, tapi pasti langsung mendadak pelan tiap lewat jendela tetangga yg nampak dari luar *berlalu sembari mengelus dada … sambil meremas remas*. Aroma weed yg menguar tiap melintas didepan pintu kedai kopi awalnya bikin pusing, tapi kok lama-lama enak ya.

Canal

Menyusuri kanal-kanal yg saling silang sepanjang kota memberikan sensasi yg tiada duanya, sayang inyong lungane dhewekan *baca : solo travelling*. Pas anginnya kencang, terpaksa mendekap diri sendiri. Kalo dingin gini bawaannya cepet lapar aja, buat ganjel perut nyobain cemilan khas Amsterdam yaitu gemblong kentang goreng siram mayo. Lumayan tambahan tenaga buat jalan. Yg terkenal sik merknya Manneken Pis Frittes.

Frittes

Sembari merapatkan coat dan shawl, gak terasa udah sampe ke rumahnya Anne Frank, tetep ya musim dingin gini ngantrinya nguler. Ya berhubung sini anaknya gak kekinian dan gak kenal siapa itu Anne Frank, numpang lewat depan rumah aja ya mbak.

Red and White

Jajaran bangunan sepanjang kanal di Amsterdam ini emang menghipnotis ya, saking terpesonanya ama arsitektur rumah-rumah yg chic, serta jajaran boathouse sepanjang kanal, Rijks Museum udah didepan mata aja ini. Dan ternyata disini to lokasinya …

I Amsterdam

Maaf kalo sini bukan anak yg artsy ato sekedar masuk ke museum biar dibilang “been there, done that“, atau biar dicap kekinian, jadi gak ada masuk ke dalam museum yg ada diseputaran Rijk Museum ini. Biarpun kelihatannya sangat hangat kalo ngadem disana *loh ngadem kok hangat*. Enakan lihatin turis-turis yg iseng manjatin tulisan “I amsterdam” dan berpose yg nyleneh-nyleneh itu. Ato lihatin pemuda pemudi setempat maen ice skating di arena yg udah disediain ini.

Karena makin dingin, diputuskanlah untuk menjelajah bagian lain dari kota ini.  Kali ini ke daerah Haarlemstraat. Jalanan yg banyak banget penjual souvenir dan restoran ini bikin iman teruji. Secara gatel pengen belanja hemat atau belanja “nikmat”. Untung masih diberi kekuatan iman untuk menahan hasrat yg mulai menggelora. Kaki perlahan beranjak, biarpun hati susah diajak *woy move on, woy*.

Lost in Amsterdam

Sebenarnya udara dingin dan kegiatan outdoor itu agak gak sinkron ya, apalagi bagi pria akhil baligh macam gw ini. Iseng bener jalan-jalan di Westerpark, seru sik sebenernya, banyak banget beburungan yg keleleran wira wiri dengan bebasnya. Tapi ya dingin banget aja ini cuacanya. Orang kuliah kalo bingung ngambil jurusan aja lebih suka ngambil hikmahnya kok, masak yg iseng seneng-seneng gak ngambil hikmahnya juga sik.

Free Range Westerpark

Hikmah dari iseng ke Westerpark pas hari Minggu itu, nemu keramaian yg sayang banget kalo gak disinggahi. Setiap hari Minggu ada CFD Sunday Market di area sekitar Westerpark . Jangan dibayangin Sunday Market macam yg jualan ngewer-ngewer barang dijalanan gitu, ini lokasinya didalam Westergasfabriek yg nampaknya bangunan gudang tua. Pernak pernik jualannya lucu-lucu banget, dan ternyata Sunday Market ini berbeda temanya tiap minggu.

Looks so warm

Itu bulu-bulu dombanya nampak hangat banget, apalagi pengunjungnya … jadi pengen tereak “Hangatkan aku dalam pelukanmu mas, hangatkan aku”. Aneka jajan pasar serta pernak pernik pengisi kediaman berjajar rapi dengan harga terjangkau *terjangkau bagi mereka ya*.

To be continue to Amsterdam Beriman Extended …

Dam Square

Girl with red sling bag

Sunday Market visitior

Mini red car

Canal tour boat

Haalemmerplein

Seagulls

The Tunnel

Crossroad

More pictures click on the photo

Advertisements

3 thoughts on “[Travel Story] Amsterdam Beriman Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s